Sekarang kamu bisa mengikuti kami melalui E-mail

Masukan E-mail Kamu

Monday, August 17, 2015

Mengapa nasi Padang yg dibungkus lebih banyak isinya

Bopung

“mengapa nasi Padang yang
dibungkus biasanya lebih banyak
daripada kalau kita makan di tempat?”
Coba deh kalian perhatiin dengan
seksama, dan kalaupun kalian nggak
percaya, silakan hitung satu demi satu
butiran nasi yang ada di bungkusan nasi
itu.
Jawaban paling umum dan terpopuler
saat ini adalah jika makana Padang
dibungkus, si penjual tidak perlu repot
mencuci piring dan mengurangi biaya
sabun cuci.
Memang jawaban tersebut cukup logis,
tapi cenderung dipaksain sih. Kalau
diitung-itung, dengan tambahan nasi
lebih jauh lebih besar ketimbang biaya
sabun cuci (seteses 100 piring). Ini
jelas-jelas bertentangan dengan apa
yang diketahui oleh masyrakat umum.
Kalo orang padang itu cenderung orang
yang efisien. Jawaban seperti diatas
tidak lebih jawaban ngeles dari si
penjual karena mereka ngga tau sejarah
asal muasal dari pertanyaan di atas.
Oh iya, kamu tidak salah baca kok.
Untuk nasi padang yang kalo dibungkus
isinya jauh lebih banyak ini ada sejarah
lho, dan sejarah ini berawal sejak jaman
penjajahan colonial Belanda.
Buat kalian yang nggak percaya, mari
kita mulai saja pembahasannya:
FYI aja gais, di Sumatera Barat dan
sekitarnya (termasuk tetangga propinsi
seperti Pekanbaru), nggak ada istilah
yang namanya Rumah Makan Padang,
adanya RM Ampera. Misal, RM Ampera
Beringin, RM Ampera Siti Nurbaya, dll.
Ampera sendiri merupakan sebuah
akronim dari amanat penderitaan rakyat.
Pada masa penjajahan, RM Padang
termasuk RM yang tergolong ekslusif
(MAHAL BINGITZ). Tentu hanya para
penjajah Belanda dan kaum Kelas
Menengah Ngehek aja yang bisa
membeli dan menikmati lezatnya
rendang, gulai tunjang, kepala ikan
kakap, dendeng, dan kawan-kawannya.
Kenapa bisa demikian?
Jadi gini yah mas, mbak. Di masa
penjajahan, beras dan daging itu
termasuk komoditi barang mahal yang
rakyat biasa-biasa saja cukup berat
untuk bisa selalu membeli komuditi
tersebut. Itulah alasan mengapa pada
waktu jaman penjajahan RM Padang ini
tergolong RM ekslusif, dikarenakan
harga bahan baku masakannya ini
mahal. Dan alasan itulah mengapa
hanya golongan orang kaya,saudagar
dan kompeni yang bisa menikmatinya.
Dan di sinilah sejarah dimulai, kenapa
nasi Padang yang dibungkus biasanya
lebih banyak daripada kalau kita makan
di tempat. Jadi dulu pas jaman kompeni,
yang boleh makan ditempat RM Padang
hanya golongan orang kaya,saudagar
dan kompeni. Kalaupun rakyat biasa/
buruh ini mampu beli, mereka cuma
boleh ngebungkus.
Para pengusaha RM Padang (pastinya
orang minang asli) menyadari bahwa
saudara-saudaranya juga layak untuk
menikmati makanan enak, dan lagi
makanan tersebut memang khas daerah
mereka sendiri. Lebih jauh lagi, mereka
para pengusaha ini juga sadar, banyak
dari saudara mereka bekerja sebagai
buruh kasar untuk para penjajah dan
kaum kelas menengah ngehek yang
makan di RM mereka, dan saudara
mereka ini membutuhkan tenaga dan gizi
yang cukup untuk tetap selalu sehat dan
bekerja menafkahi keluarga mereka
masing-masing.
Pada suatu waktu, entah siapa yang
memulai, para pengusaha RM ini
memberlakukan peraturan baru. Jumlah
nasi yang dibeli dengan dibungkus
isinya akan jauh lebih banyak daripada
makan ditempat. Biaya makan ditempat
dibebankan kepada para penjajah dan
para saudagar kaya dan biaya makan
dibungkus untuk para buruh dan para
pribumi lain.
Inilah yang dijaman modern disebut
subsidi silang. Kebijakan ini oleh para
pengusaha disebut dengan Ampera alias
Amanat Penderitaan Rakyat. Inilah
asalnya kenapa RM Padang di Sumatera
Barat sana disebut dengan RM Ampera.
Spirit Ampera ini seperti yang kita lihat,
masih terbawa sampai detik ini bahkan
sudah menyebar diseluruh Indonesia.
Semua pelosok ada.
_____________________________________________
Sepertinya kalo sekarang-sekarang ini
sudah beda tujuan, karena yang makan
di tempat pun orang biasa juga ada,
bukan lagi orang-orang kaya seperti
cerita sejarahnya.
Kenapa kalo makan di tempat di kasih
nasi sedikit?
Ini namanya trik dagang mas bro, mbak
bro. Karena kalo nasi nya sedikit mereka
merasa belum kenyang bisa nambah,
otomatis biayanya juga nambah dan
untungnya lebih nambah.
Ada pun keuntungan lain, jika semua
pelanggan pada nasi tambah. Ini juga
dapat membangun perspsi positif untuk
RM tersebut, seperti "wah masakannya
pasti enak nih, karena orang pada
nambah semua". Jadi karena persepsi
positif tadi, memungkinkan orang jadi
terdorong untuk nyobain makan di RM
padang tersebut.
Kenapa nasi padang dibungkus lebih
banyak?
Karena kalo dibungkus yang banyak
biasanya orang dirumah bisa nyicip dan
kebagian, nah dengan mencicipi inilah
timbul rasa yang dimana keluarganya
juga ingin ikut beli (mungkin jadi ikutan
laper atau enak), jadi otomatis mereka
beli lagi deh kerumah makan tersebut
Nah, itulah alasan kenapa Jumlah nasi
yang dibeli dengan dibungkus isinya
akan jauh lebih banyak daripada makan
ditempat.

Sumber : kalo mau lihat artikel aslinya klik ini

Bopung / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

BopungChannel @ 2010-2018, Amor Andriaan Modifikasi by Amor Andriaan | Penulis By Amor Setiawan